28 April, 2014


Orang baik bisa tiba-tiba menjadi jahat begitu juga sebaliknya orang jahat juga masih ada sisi-sisi baiknya. Sisi baik dan jahat manusia memang selalu berdampingan tapi sisi jahat sebisa mungkin harus dienyahkan agar hidup berjalan lancar. Lalu bagaimana caranya agar sisi jahat ini tidak muncul?
“Pada dasarnya setiap manusia memiliki kecenderungan terhadap 2 sisi tersebut, tapi sisi mana yang menonjol tergantung dari stimulasi dan lingkungan yang memfasilitasinya,” ujar Efnie Indrianie, MPsi saat dihubungi detikHealth, Jumat (15/4/2011).
Efnie menuturkan berdasar teori kepribadian psikoanalisis dari Sigmund Freud menyatakan bahwa manusia itu hidup dengan memiliki 2 insting, yaitu insting live atau hidup (dorongan naluri untuk hidup seperti makan, minum, seksual) serta insting death atau mati (dorongan agresif seperti perilaku menyerang). Kalau satu sisi sedang naik maka sisi lainnya akan turun.
Seperti halnya anak kecil yang dipukul maka secara refleks ia akan memukul balik, padahal mungkin tidak ada yang mengajarinya untuk memukul. Hal ini karena sejak lahir ia sudah memiliki kedua insting tersebut.
Jadi sebenarnya setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berperilaku jahat. Tapi seiring dengan bertambahnya usia, penanaman terhadap nilai moral, pemahaman kognisi, perkembangan otak dalam mengolah informasi kehidupan maka bisa membantu seseorang menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Di dalam kehidupan, seseorang dipengaruhi oleh faktor nature (alamiah) dan juga lingkungan. Diketahui faktor lingkungan memiliki peran yang lebih besar yaitu sebesar 60 persen sedangkan faktor alamiah (bawaan) sebesar 40 persen.
“Kalau selama hidup ia mendapatkan stimulasi negatif, maka hal ini akan disimpan di dalam memori otaknya. Jika berlangsung terus menerus maka akan menjadi habit yang nantinya akan membentuk kepribadian negatif dari orang tersebut,” ungkapnya.
Tapi orang yang selalu terlihat baik, diam atau tenang suatu saat bisa berubah memiliki emosional yang meledak. Hal ini bisa terjadi jika ia secara terus menerus berada di bawah kondisi tertekan (pressure).
Lalu bagaimana caranya agar sisi jahat dari seseorang tidak muncul?
“Dalam hal ini bukan menutupi sisi jahat seseorang, tapi mengolah energi negatif tersebut agar menjadi hal-hal yang positif,” ujar dosen psikologi klinis di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung.
Untuk mendapatkan hal tersebut Efine menuturkan bisa dengan cara meningkatkan nilai-nilai spiritualitas (religi) atau sedini mungkin harus ditanamkan rasa kasih sayang sehingga nantinya ia menjadi orang yang tidak tega untuk menyakiti atau memperlakukan orang lain dengan tidak baik.
“Sejak anak lahir, ibu dan ayah bisa memberikan perhatian, mengusapnya, membelai, menggendong atau mendengarkan ceritanya. Hal itu memang terlihat sepele tapi bisa menimbulkan rasa aman dan nyaman pada anak,” ujarnya.
Jika anak-anak sudah ditanamkan kasih sayang dan kebiasaan untuk memberi, menolong serta berbagi pada orang lain maka akan hal ini akan membentuk kepribadiannya sehingga sisi baik yang lebih menonjol. Tapi jika sudah mencapai usia remaja atau dewasa maka akan lebih sulit karena sudah ada habit yang terbentuk.
Sedangkan jika seseorang lebih menonjolkan sisi jahat dibanding dengan sisi baiknya, maka hal ini bisa diubah menjadi baik dengan melakukan terapi perubahan perilaku. Tapi biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak ada waktu pastinya berapa lama.
“Proses ini biasanya dengan mengubah mind set serta kebiasaan yang dimiliki orang tersebut untuk melakukan sesuatu atau menemukan cara-cara baru yang lebih positif,” ungkap psikolog yang berpraktik di Melinda Hospital Bandung.

(ver/ir) Jakarta, detikhealth

1 komentar :